Potensi Sari Buah Nanas sebagai Obat Alternatif untuk HIV/AIDS

Penyakit AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan salah satu diantara penyakit menular yang paling ditakuti dewasa ini. Diperkirakan saat ini, ada sekitar 30 juta penderita penyakit HIV/AIDS di seluruh dunia. Sejak diketemukannya pada tahun 1980an hingga sekarang, belum diketemukan obat yang dapat menyembuhkannya. Virus HIV dapat ditularkan melalui hubungan seksual, penggunaan jarum suntik secara bersama (pengguna narkotik), serta melalui transfusi darah. Dalam beberapa kasus, bayi yang baru dilahirkan dapat pula tertular bila sang ibu mengidap HIV/AIDS. Meskipun tingkat penyebaran HIV/AIDS di Indonesia tidaklah seluas di belahan dunia lainnya, namun laju penyebaran HIV/AIDS di Indonesia harus diwaspadai, mengingat jumlah penderitanya senantiasa meningkat. Berbagai upaya riset dari para peneliti hingga saat ini belum membuahkan obat yang ampuh untuk mencegah atau menyembuhkan penyakit HIV/AIDS. Saat ini, upaya pengobatan yang paling baik adalah dengan menggunakan pil ARV (Anti Retro-Viral pill), yang meskipun dapat menahan laju perkembangan keganasan virus HIV, namun belum dapat secara tuntas menyembuhkan penyakit AIDS. Dalam hasil riset beberapa peneliti dari Swiss German University (Serpong – Indonesia), sari buah nanas dengan kandungan enzim bromelain-nya ternyata memiliki potensi yang besar sebagai jalan alternatif, untuk menyembuhkan penyakit HIV/AIDS. Dari hasil uji coba kepada 7 orang pasien HIV/AIDS, para pasien ini telah mengalami kemajuan yang pesat hanya dalam waktu 2-3 bulan.


Virus HIV dalam Tubuh Manusia

Bila dilihat dari struktur virus HIV, sebagaimana yang ditampilkan dalam diagram, virus HIV memiliki kulit luar yang tersusun dari lapisan lemak, yang diselingi struktur seperti tanduk-tanduk. Tanduk-tanduk pada kulit luar ini terbuat dari protein dan memiliki peran yang sangat penting dalam proses perkembangbiakan virus HIV. Dalam perkembangbiakannya, virus HIV akan menyerang salah satu komponen penting sistem kekebalan tubuh manusia yaitu sel CD4+. Dalam prosesnya, virus HIV akan mendekati sebuah sel CD4+, dan dengan menggunakan tanduknya, virus akan melakukan kontak dengan reseptor yang berada pada permukaan sel CD4+. Setelah kontak ini berhasil, maka sel virus akan meleburkan dirinya dengan memasukan komponen inti dari virus yang mengandung RNA (Ribo Nucleic Acid), yang diperlukan untuk perbanyakan virus ini. Dengan menggunakan material pada sel CD4+, virus akan memperbanyak dirinya, hingga rusaknya sel CD4+ tersebut. Karena fenomena ini, seseorang yang terinfeksi virus HIV akan mengalami penurunan jumlah sel CD4+, dan pada saat yang sama, jumlah virus HIV di dalam tubuhnya akan meningkat secara drastis, hingga puluhan ribu bahkan ratusan ribu virus/mL darah. Pada akhirnya, sistem kekebalan tubuh manusia yang terserang virus HIV akan menurun tajam, hingga memasuki fasa penyakit AIDS. Dalam kondisi normal, seorang manusia akan memiliki konsentrasi jumlah CD4+ sebanyak 500-1500 sel/uL. Sedangkan dalam kondisi terkena HIV/AIDS, CD4+ bisa mencapai angka hingga dibawah 100 sel/uL. Dalam keadaan seperti ini, berbagai serangan penyakit yang biasanya dapat diatasi tubuh dengan mudah, akan menjadi ancaman yang serius.

Sari Nanas sebagai Obat HIV/AIDS

Dalam sebuah riset yang dikerjakan oleh Maruli Pandjaitan, Tutun Nugraha dan Kezia H. Pamudja, Tabligh Permana, di Swiss German University (Indonesia), kelompok peneliti ini berhipotesa bahwa mengingat tanduk virus tersebut terbuat dari protein, maka ada kemungkinan tanduk ini dapat dirusak oleh sejenis enzim yang memiliki sifat proteolitik, yaitu enzim yang berfungsi untuk menghancurkan protein. Diantara dua kandidat dari enzim ini adalah enzim papain yang berasal dari getah pepaya, serta enzim bromelain yang berasal dari buah nanas. Berdasarkan percobaan awal di laboratorium, enzim bromelain memiliki aktifitas yang lebih kuat terhadap virus HIV. Riset ini kemudian dilanjutkan dengan memfokuskan pada enzim bromelain sebagai obat alternatif terhadap virus HIV. Dalam uji lab dengan mengikubasikan enzim bromelain (kemurnian teknis) dengan plasma darah yang mengandung virus HIV (uji in vitro), selama 4 jam pada suhu 37oC, bromelain menunjukan kemampuan untuk membunuh virus HIV pada konsentrasi diatas 10 mg/mL. Riset saat ini masih berlanjut, dan berupaya untuk meneliti mekanisme serangan enzim bromelain terhadap virus HIV.

Melalui kerjasama dengan sebuah klinik dan sebuah rumah sakit, 7 orang pasien yang mengidap HIV/AIDS telah diberikan diet jus nanas segar yang dikonsumsi sebanyak 2 gelas setiap harinya. Sampel dari jus nanas ini telah diukur untuk mengetahui aktifitas enzim bromelain di dalamnya. Nanas yang dipilih haruslah nanas segar yang tidak terlalu matang. Nanas seperti ini memiliki kandungan bromelain yang paling tinggi. Jus dibuat dengan mengupas kulit buah nanas, serta membuang bagian mata nanas. Jus kemudian dibuat dengan blender dapur biasa (kitchen blender), dengan memasukan daging nanas yang telah dipotong kecil-kecil termasuk bagian bonggolnya. Dari hasil riset, justru pada bagian bonggol yang berada di tengah buah nanas inilah, sebagian besar aktifitas dari enzim bromelain terkandung. Ini penting untuk ditekankan, mengingat secara tradisi, bonggol nanas ini biasanya dibuang, sedangkan dagingnya diambil untuk dikonsumsi.

Dari tujuh orang yang pasien HIV/AIDS yang telah mengikuti program diet jus nenas, pada mulanya mereka memiliki jumlah CD4+ yang cukup rendah, antara 300 sel/uL hingga dibawah 100 sel/uL. Rendahnya angka CD4+ merupakan salah satu penanda yang khas dari pasien HIV/AIDS. Selama mengkonsumsi jus nanas, perubahan jumlah sel CD4+ dalam darah pasien terus dimonitor. Dalam perioda 2-3 bulan saja, para pasien ini mengalami kenaikan jumlah sel CD4+ yang cukup pesat. Bahkan pada akhir bulan ketiga, konsentrasi sel CD4+ dalam tubuh 3 pasien diantaranya, sudah mencapai rentang angka yang normal. Dalam kondisi ini, minimal tubuh penderita HIV/AIDS yang awalnya sangat rentan terhadap serangan penyakit, telah kembali memiliki kesempatan untuk mempertahankan dirinya. Data lengkap perkembangan semua pasien dapat dilihat dalam tabel 1.

Tabel 1. Perubahan CD4+ sebelum dan sesudah meminum jus Nanas

CD4+ pada kondisi awal—–CD4+ setelah mengkonsumsi jus nanas

135 sel/uL——647 sel/uL (3 bulan, normal),setelah 7 bulan, jumlah virus di bawah limit deteksi dari pembacaan alat

<200 sel/uL—–723 sel/uL (3 bulan, normal), setelah 7 bulan, jumlah virus di bawah limit deteksi dari pembacaan alat

<200 sel/uL—–361 sel/uL (6 minggu)

391 sel/uL—–688 sel/uL (2 bulan, normal)

75 sel/uL——199 sel/uL (2 bulan)

49 sel/uL——221 sel/uL (2 bulan)

3 sel/uL——-129 sel/uL (2 bulan)

Kadar Normal 500 – 1500 sell/ul

Lebih jauh lagi, salah satu pasien yang telah mencapai angka CD4+ dalam rentang normal (723 sel/uL), juga telah mengikuti uji plasma viral load (PVL) yang akan menghitung jumlah virus HIV dalam darahnya. Dalam kondisi terkena HIV/AIDS, angka hasil uji PVL adalah antara ribuan kopi virus-HIV/mL hingga ratusan ribu kopi/mL. Dari hasil uji pada pasien ini, telah diperoleh hasil yang sangat baik. Virus dinyatakan tidak dapat terdeteksi (dibawah 400 kopi/mL). Hal ini menunjukan telah terjadinya penurunan jumlah virus yang signifikan di dalam tubuh pasien.

Kes
impulan: Potensi ke Depan

Meskipun penelitian ini masih terus berlanjut, hasil yang diperoleh sejauh ini menunjukan bahwa pengkonsumsian jus buah nanas segar merupakan sebuah upaya alternatif untuk penyembuhan penyakit HIV/AIDS. Jus nanas dengan kandungan enzim bromelainnya, dalam kurun waktu 2-3 bulan, telah mampu menaikan jumlah sel CD4+ dari angka yang rendah (<200 sel/uL) hingga naik ke rentang yang lebih tinggi, bahkan hingga pada rentang normal (500–1500 sel/ul). Salah satu pasien yang telah diuji dengan tes viral load, menunjukan jumlah virus dibawah deteksi (<400 kopi/mL). Hal ini merupakan Terobosan baru dalam dunia kedokteran untuk penyembuhan penyakit AIDS. Diharapkan dalam kurun waktu 2-3 tahun, akan dapat dihasilkan obat yang dapat melawan penyakit AIDS ini. Sementara ini, bagi penderita HIV/AIDS, dapat dianjurkan untuk mengkonsumsi sari buah nanas segar secara teratur, agar penyakit AIDS yang dideritanya dapat secara perlahan disembuhkan.

Dr.rer.nat. Maruli Pandjaitan, Dr. Tutun Nugraha BASc, MASc, Dipl.Ing. Kezia Hendardy Pamudja, ST., Tabligh Permana, S.Si.

Department of Biomedical Engineering, Faculty of Life Sciences, Swiss German University , Serpong, Indonesia

Kontak: maruli.pandjaitan@sgu.ac.id, tutun.nugraha@gmail.com, keziahendardy@yahoo.com, tabligh.permana@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s