Agnostik

Alhamdulillah, akhirnya nemu artikel yang cukup mencerahkan tentang aqidah yang satu ini. Dari beberapa artikel yang menjelaskan agnostik, saya masih ga mudheng tentang ini. Akhirnya saya menyimpulkan bahwa penganut agnostik itu ibarat “hidup segan mati tak mau”. Atheis bukan, beragama juga tidak, posisinya berada dikeduanya. Untuk membedakan antara agnostik dengan atheis -dari yang saya baca tadi- dibilang gini: “Agnostik adalah kebodohan yang sempurna, sedang atheis adalah kesombongan yang sempurna”. Artikel lengkapnya, monggolah dibaca…

***

Agnostisisme adalah suatu pandangan filosofis bahwa suatu nilai kebenaran dari suatu klaim tertentu yang umumnya berkaitan dengan teologi, metafisika, keberadaan Tuhan, dewa, dan lainnya yang tidak dapat diketahui dengan akal pikiran manusia yang terbatas.

Seorang agnostik mengatakan bahwa adalah tidak mungkin untuk dapat mengetahui secara definitif pengetahuan tentang “Yang-Mutlak”; atau dapat dikatakan juga, bahwa walaupun perasaan secara subyektif dimungkinkan, namun secara obyektif pada dasarnya mereka tidak memiliki informasi yang dapat diverifikasi. Dalam kedua hal ini maka agnostikisme mengandung unsur skeptisisme.

Agnostisisme berasal dari perkataan Yunani gnostein (tahu) dan a (tidak). Arti harfiahnya “seseorang yang tidak mengetahui”.

http:id.wikipedia.org/wiki/Agnostisisme

Demikianlah arti secara harfiah dari kata agnostik menurut Wikipedia.org, yang akan kita telaah dalam artikel ini bagaimana agnostik itu dan bagaimana mereka memahami Tuhan. Membahas ini saya teringat akan seorang teman, atheis dari Yunani, yang mengatakan : “Agnostisisme adalah kebodohan yang sempurna.” Saya setuju dengannya setelah saya pahami apa yang dimaksud dengan agnostisisme itu. Perlu saya akui bahwa saya awalnya agak kesulitan memahami perbedaan yang nyata antara agnostisisme dengan atheisme.

Agnostisisme tidak menyangkal keberadaan Tuhan secara mutlak. Mereka beranggapan bahwa keberadaan Tuhan adalah sesuatu yang tidak mungkin dapat dinalar oleh akal manusia, dan konsekuensinya adalah keberadaan Tuhan tidak dapat diketahui dengan cara apapun. Sedangkan atheisme adalah paham yang menyangkal sama sekali keberadaan Tuhan karena tidak dapt dibuktikan secara empiris ataupun logis akan keberadaan-Nya. Dua pemahaman yang sebenarnya sama sekali berbeda. Yang satu tidak berani atau ragu akan keberadaan Tuhan walaupun ia dapat melihat bukti ketuhanan dan yang lain sama sekali menolak bukti keberadaan Tuhan dengan alasan tidak logis. Yang satu adalah ‘kebodohan sempurna’ -meminjam istilah teman saya itu- dan yang lain adalah kesombongan sempurna menurut pendapat saya sendiri.

Mengapa ‘Kebodohan Sempurna’?

Seorang agnostik tidak menyatakan bahwa Tuhan itu ada, walaupun beberapa dari mereka juga meyakini akan keberadaan Tuhan, pada akhirnya. Ia juga tidak akan menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada, karena ia menyadari akan bukti-bukti keberadaan Tuhan.

Bagi yang meyakini bahwa Tuhan itu ada, mereka akan menyangkal bahwa Tuhan menurunkan syariat, ketentuan, hukum untuk manusia. Mereka menolak keberadaan agama apapun yang dinisbatkan kepada Tuhan. Dalam kesimpulan mereka, keberadaan Tuhan tidak berarti keberadaan agama. Bahwa Tuhan ada tidak mengharuskan-Nya menurunkan nabi atau rasul untuk menjelaskan agama untuk ummat manusia. Mereka menilai Tuhan menciptakan semesta alam berikut manusia didalamnya, namun bukan Tuhan yang menetapkan fitrah dari tiap-tiap mahluk-Nya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa agnostisisme menyatakan bahwa Tuhan mungkin menciptakan alam semesta beserta manusia didalamnya, dan beberapa yakin bahwa memang Tuhan yang menciptakan, namun tanpa tujuan untuk apa dan alasan mengapa Tuhan menciptakan itu semua. Atau dengan bahasa yang lebih sederhana, Tuhan ‘iseng’ kemudian menciptakan alam semesta dengan manusia didalamnya.

Mungkin dalam pemikiran mereka, tidak mungkin manusia mengetahui misteri sebesar itu. Artinya Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan ketidaksempurnaan yang fatal atau kembali kepada kesimpulan awal, ‘iseng’. Semoga sampai sejauh ini pertanyaan besar sudah terjawab, mengapa ‘kebodohan sempurna’.

Konsekuensi dari Agnostikisme

Pertama; penyangkalan terhadap agama apapun yang berkembang. Atau penerimaan terhadap semua agama sekaligus karena semuanya mungkin benar. Yang manapun seorang agnostik tidak mungkin dapat menerima doktrin agama, sehingga pada akhirnya ia hanya akan kembali kepada posisinya yang tidak beragama.

Kedua; tak ada tujuan hidup, kecuali untuk dirinya sendiri. Atau mengabdikan diri untuk kemanusiaan namun tanpa memiliki parameter yang baku akan benar dan salah kecuali syahwatnya sendiri. Bahkan benar dan salah akan selalu menjadi sesuatu yang relatif, dan tidak ada yang absolut dalam hidup ini. Kebenaran adalah yang semata-mata nampak di depan mata.

Ketiga; tidak memiliki standar nilai atau moralitas, kecuali syahwatnya sendiri atau konsensus yang diterima oleh masyarakat. Karena kebenaran adalah suatu hal yang relatif, maka standar nilai atau moralitas pun akan menjadi relatif. Perselingkuhan akan dapat dibenarkan dengan alasan yang tepat, ini hanya salah satu contoh.

Dari ketiga poin diatas, terlihat jelas kemiripan antara konsekuensi agnostisisme dengan konsekuensi atheisme terhadap seseorang. Hanya saja ada perbedaan ideologis yang menjadi latar belakang keduanya, sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya. Lalu bagaimana Islam menjawab keraguan dari seorang agnostik?

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. 2:23)

Sederhana saja. Kalau Al Qur’an bukan bukti nyata keberadaan Tuhan yang dapat diterima dengan akal sehat, silahkan menjawab tantangan ini. Kalau tidak bisa memenangkan tantangan ini, jelas berarti klaim Al Qur’an adalah benar dan ternyata keberadaan Tuhan dapat diterima dengan akal sehat dalam kapasitasnya. Perlihatkanlah klaim dari Al Qur’an yang menunjukkan supremasinya diatas akal manusia, sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala :

“Tidaklah mungkin Al Qur’an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Qur’an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.” (QS. 10:37)

Al Qur’an, sebuah bukti nyata yang terang benderang dan menunjukkan kesalahan pola pikir mereka yang didasari oleh asumsi-asumsi manusia tanpa kebenaran sama sekali. Namun jika setelah itu, mereka masih berbantah-bantahan maka selesaikanlah dengan firman Allah Ta’ala :

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka orang-orang lalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran.” (QS. 17:99)

Lalu lakukanlah sebagaimana Allah swt perintahkan dalam firman-Nya :

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.” (QS. 7:199)

Demikianlah selesai kewajiban kita untuk beramar ma’ruf nahi munkar.

Billahi taufiq wal hidayah, wallahu a’lam bish-showab.

source: http:tajarrud.wordpress.com/2011/04/05/memahami-agnostikisme/

PS: dari semua artikel tentang agnostik, artikel
di atas adalah satu2nya (yang saya temukan) yang memandang agnostik dalam kacamata Islam.

6 thoughts on “Agnostik

  1. Ka, kmgknn bhw mrka menerima smw agama skaligus itu pun mrka tdk membarenginya dgn keimanan. Shingga bodohnya itu ada pada: bisa jd mrka anggap ada agama yg benar tp kmudian mrka hanya skdar mengangguk-angguk tnpa lebh jauh mengimani ya kak?Eniwei, syukron atas infonya ka.

  2. faraziyya said: Ka, kmgknn bhw mrka menerima smw agama skaligus itu pun mrka tdk membarenginya dgn keimanan. Shingga bodohnya itu ada pada: bisa jd mrka anggap ada agama yg benar tp kmudian mrka hanya skdar mengangguk-angguk tnpa lebh jauh mengimani ya kak?Eniwei, syukron atas infonya ka.

    dyn belum pernah diskusi sama penganut agnostik ziy, jadi kurang tau, hehe.. afwan..

  3. faraziyya said: Ka, kmgknn bhw mrka menerima smw agama skaligus itu pun mrka tdk membarenginya dgn keimanan. Shingga bodohnya itu ada pada: bisa jd mrka anggap ada agama yg benar tp kmudian mrka hanya skdar mengangguk-angguk tnpa lebh jauh mengimani ya kak?Eniwei, syukron atas infonya ka.

    Sharing yang sangat menarik.Alasan para agnostik dlm memandang Tuhannya hanyalah bahan untuk menutupi kemalasannya dalam beribadah. Padahal ibadah kepada-Nya adalah sebuah fitrah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s