Siapakah Zionis Israel Itu? (5)

body { background: #fff; margin: 0px; padding: 4px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 13px; height: auto; width: auto; }

Pada
awal abad ke-20, Scofield mulai memberikan catatan kaki pada Injil
versi King James, Injil yang dipergunakan oleh negara-negara berbahasa
Inggris, termasuk Amerika. Ayat-ayat di dalam Injil tersebut sama sekali
tidak diganti, namun di bawahnya diberi banyak sekali catatan-catatan
kaki yang seluruhnya berisi dukungan dan pembenaran bagi berdirinya
negara Zionis-Israel di tanah Palestina. Catatan kaki itu bahkan lebih
banyak daripada ayat Injil itu sendiri.

The Oxford University membayar Scofield yang
disebutnya sebagai pastor dan menerbitkan Injil tersebut dengan jumlah
yang teramat besar. Di tahun 1908 Scofield merampungkan kerjanya ini dan
Injil versi King James yang telah ditulisi ratusan bahkan ribuan
catatan kakinya itu disebut sebagai The Scofield Reference Bible, The
Holy Bible. Oxford University Press menerbitkan Injil Scofield pada
tahun 1909 dan melakukan promosi gila-gilaan sehingga Injil Scofield
menjadi Injil paling laris di Amerika Serikat dan bahkan di dunia.

Di dalam Injilnya, Scofield sebenarnya meneruskan
pandangan John N. Darby yang secara umum telah diterima oleh
evangelikalisme arus utama dan fundamentalisme Protestan Amerika.
Scofield Reference Bible kemudian menjadi Alkitab kaum fundamentalis
Kristen di AS dan dunia.

Seorang murid Scofield yang paling berpengaruh,
Lewis Sperry Chafer, di tahun 1924 mendirikan Dallas Theological
Seminary, Sekolah Theologi Amerika yang begitu bersemangat membela
pandangan dispensasionalisme pra-millenialis Darby dan Injil Scofield,
dan yang jelas juga, mereka membela habis-habisan kepentingan Zionisme.

Para elit Zionis tidak saja memerintahkan Scofield
‘menulis ulang’ Injil, tetapi juga menyiapkan infrastrukturnya. Sesaat
setelah terbitnya Injil Scofield, sejumlah gerakan Kristen evangelikal
yang sedang tumbuh di Amerika segera menyambutnya dengan penuh semangat.
Bahkan beberapa di antaranya tercatat sebagai anggota redaksi penulisan
Injil Scofield ini. Injil baru ini pun kemudian menyebar di seantero
Amerika dan juga Eropa, dipakai sebagai pegangan utama di gereja-gereja
evangelikal, seminari, dan juga kelompok-kelompok studi Alkitab yang
bertebaran di seluruh negeri.

Pendeta Billy Graham dan sejumlah pendeta-pendeta
radikal yang memang dipersiapkan oleh elit Zionis Yahudi Internasional
dengan penuh semangat mengkhotbahkan bahwa Injil Scofield merupakan
Injil yang paling baik dari segi penafsiran. Kepada para jemaatnya,
mereka menyatakan bahwa antara Kristen dengan kaum Yahudi itu satu
kepentingan dan satu missi. Bahkan mereka, dengan mengutip ayat-ayat
Injil secara serampangan, menyatakan siapa pun orang Kristen yang tidak
mendukung Israel adalah terkutuk dan menentang kehendak Tuhan.

Dengan promosi besar-besaran dan didukung pabrik
propaganda Yahudi Internasional, dari harian, majalah, bulletin, hingga
radio, televisi, dan internet, serta kelompok-kelompok studi Alkitab
yang banyak didirikan, secara perlahan namun pasti opini yang
dikehendaki mereka pun terbentuk. Banyak sekali orang Amerika yang
sekarang menganggap keberadaan Israel di tanah Palestina adalah sesuatu
yang sah, sesuai dengan takdir Tuhan. Mereka kini mendukung
Zionis-Israel tidak sekadar pertimbangan politik atau ekonomi, tetapi
sudah menjadi bagian dari keyakinan keberagamaan mereka. Konspirasi
Yahudi telah sangat berhasil mengubah opini warga Amerika, yang kemudian
diikuti oleh gereja-gereja evangelikal di Eropa dan seluruh dunia.

Inilah sebabnya sekarang kita bisa dengan mudah
melihat, begitu dekatnya dan setianya umat Kristen mendukung segala
kebejatan dan kebiadaban yang dilakukan Israel, bahkan sekali pun
pasukan Zionis itu menembaki gereja tempat Yesus dilahirkan. Injil
Scofield merupakan Injil pijakan ideologis kelompok Judeo-Christian atau
Zionis Kristen di Amerika dan juga dunia.

Sebagai conoh, beberapa catatan kaki buatan Scofield, yang tidak terdapat dalam Injil sebelumnya, adalah:

“Mereka yang menzalimi orang Yahudi niscaya akan
bernasib buruk, (dan) mereka yang melindunginya akan bernasib baik. Masa
depan akan membuktikan prinsip ini dengan cara yang luar biasa”
(Catatan kaki 2, Genesis 12: 1)

“Tuhan telah berjanji pada suatu janji pemberkatan
tanpa syarat kepada negara Israel untuk mewarisi suatu wilayah tertentu
untuk selama-lamanya” (Catatan kaki 2, Genesis 12:1)

“Bagi suatu bangsa yang melakukan dosa berupa
anti-semitisme—kepada mereka—akan menyebabkan penghukuman yang tidak
bisa dielakkan” (Catatan kaki 3, Genesis 15: 1-7)

Freemasonry di Belakang Judeo Christianity

Awal mula terbentuknya kelompok Judeo-Christian atau Zionis-Kristen di AS, yang kini mainstream
Kristen Amerika, berasal dari jejak Pendeta John N Darby yang berasal
dari Gereja Skotlandia, sebuah denominasi dalam Gereja Anglikan dan
pendiri Plymouth Brethen. Sejarah mengenal Skotlandia sebagai rumah asal
para Freemasonry, setelah Skotlandia di masa kekuasaan Robert de Bruce
menjadi tempat pelarian terbesar bagi Ksatria Templar yang dikejar-kejar
pasukan gabungan Gereja dan Perancis.

Darby merupakan penggagas pertama doktrin
dispensasionalisme pra-millennial. Bersama Pendeta Edward Irving, Darby
sangat gencar mempromosikan dispensasionalisme pra-millennial dalam
tahun 1824-1833 di Inggris dan Skotlandia. Sejak 1862 John N. Darby
banyak berkunjung ke Amerika Utara. Dalam kurun waktu 25 tahun ia telah
mengadakan tujuh perjalanan propaganda ke Amerika. Selama berkeliling di
Amerika, Darby berupaya menanamkan pengaruhnya atas para pemimpin
gereja evangelis Amerika. Yang menjadi pengikut Darby tercatat nama-nama
seperti William E. Blackstone, James H. Brookes, Arno Gaebelein, Dwight
L. Moody, dan Cyrus I. Scofield.

Selain itu, paham Injili Darby juga telah
menyuburkan tumbuhnya sekolah-sekolah Alkitab, konferensi-konferensi
tentang penggenapan “nubuat para nabi”, dan kelompok-kelompok kajian
Alkitab. Awalnya memang sebatas di dalam gereja evangelis AS namun
kemudian dengan cepat menyebar menjadi sesuatu yang sangat akrab di
dalam aras fundamentalisme Amerika Serikat, yang marak pada tahun-tahun
1875 hingga 1920.

Darby sendiri sesungguhnya tidak pernah sukses
berkarir di tanah kelahirannya. Namun walau demikian ia berhasil
melakukan kunjungan sebanyak tujuh kali ke Amerika dengan agenda
kegiatan dan wilayah yang dikunjunginya sangat luas. Tentu semuanya itu
memerlukan dana yang tidak sedikit. Hal ini menimbulkan kecurigaan di
kalangan pengamat bahwa di belakang Darby sesungguhnya ada pemodal
Zionis-Yahudi yang mendukung perjalanannya itu. Bukankah perjalanan
Darby dalam rangka kepentingan mereka juga?

William E. Blackstone (1841-1935) tercatat sebagai
salah seorang Zionis-Kristen pertama di Amerika. Blackstone amat gigih
selama puluhan tahun memperjuangkan kepentingan bangsa Yahudi. Dia
adalah seorang penginjil dan juga pekerja dari Gereja Episkopal
Methodis, juga pendiri American Messianic Fellowship International
(1887). Blackstone menulis buku Jesus Is Coming (1887) dan sampai dengan tahun 1927 telah diterjemahkan ke dalam enam puluh bahasa dunia, termasuk Indonesia.

Di bukunya itu, Blackstone berdalih bahwa
orang-orang Yahudi memiliki hak-hak alkitabiah atas tanah Palestina dan
mereka akan segera menempati kembali tanah itu. Kemunculan gerakan
Zionisme merupakan satu isyarat Alkitabiah bahwa Kristus akan segera
datang kembali (Blackstone tidak menyebut Yesus Kristus, melainkan hanya
Kristus, yang dalam keyakinan Ordo Kabbalah adalah Yohannes Pembaptis).

Lebih dari itu, Blackstone juga menegaskan bahwa
orang Kristen harus dan wajib mempersiapkan serta membuka jalan bagi
kedatangan kembali Yahudi Diaspora untuk menempati Tanah Palestina.

Buku Blackstone ini telah dicetak ulang
berkali-kali dan jadi buku yang paling luas pembacanya di abad ke-20.
Kesuksesan Blackstone diikuti oleh terbitnya buku-buku dan novel-novel
sejenis. Dua penulis Kristen ultra-fundamentalis Amerika yang terkenal
adalah Hal Lindsey (The Late Great Planet Earth, 1970) dan novel
teologis Tim LaHaye (Serial Left Behind, 1995). Keduanya mengalami cetak
ulang hingga sekarang telah beredar puluhan juta kopi di seluruh
negara.

Dalam novel-novel Left Behind, Yesus digambarkan
bukan sebagai seorang manusia yang penuh kasih dan mengajarkan damai,
tapi digambarkan sebagai seorang super hero, mirip Rambo, yang gemar
membunuh orang dengan dalih melakukan kehendak Tuhan. Sebuah wajah Yesus
yang haus darah, yang akan segera menghukum tanpa ampun siapa pun yang
tidak percaya padanya atau yang menghalangi kehendaknya.

Jika hal ini kita sejajarkan dengan sikap dan citra
Presiden George W Bush yang haus perang dan darah, maka kita akan
menemukan benang merah yang sangat kuat bahwa Bush sesungguhnya
terinspirasi oleh gambaran Yesus “Rambo” yang ditulis oleh
penulis-penulis pendukung paham Darby dan Scofield. Bagi siapa saja yang
menginginkan paparan lebih rinci dan jelas mengenai Injil Scofield,
silakan baca artikel Charles E. Carlson berjudul “The Zionist-created Scofield ‘bible’: The Source of the Problem in the Mid East, Why Judeo-Christians Support War”.[bersambung/rz]

sumber: http:www.eramuslim.com/berita/laporan-khusus/siapakah-zionis-israel-itu-5.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s