Asy Syahid Syaikh Abdullah Azzam Menuturkan Pahlawan Islam Abu Abdillah Usamah bin Ladin

Asy Syahid Syaikh Abdullah Azzam Menuturkan Pahlawan Islam Abu Abdillah Usamah bin Ladin

Asy Syahid Syaikh Abdullah Azzam rohimahulloh, di dalam kitab Tarbiyah Jihadiyah Jilid 11, pernah ditanya tentang peran pemuda arab di dalam kancah jihad Afghanistan. Setelah beliau menjelaskan peran pemuda arab juga beberapa kisah karomah kesyahidan pemuda arab di bumi jihad Afghanistan, beliau rohimahulloh kemudian menuturkan sosok Pahlawan Islam Abu Abdillah Usamah bin Ladin:

Usamah bin Ladin (semoga Allah memuliakan dia dan memberi penjagaan atasnya), dia menerima pe­na­waran sebesar 8.000 juta riyal untuk proyek per­luas­an kota Haram (Makkah). Dia meninggalkan pena­war­an tersebut dan bahkan memilih tinggal bersama para pemuda di Jalal Abad. Setiap saat boleh jadi menemui ajalnya di medan pertempuran. Dia dan sau­dara-saudaranya memiliki perseroan besar. Perseroan Bin Ladin merupakan perseroan terbesar khususnya di Timur Tengah dan di dunia Islam. Dia meninggalkan kemewahan dunia di belakangnya. Badannya kurus, tekanan darahnya rendah. Dia selalu membawa sejumput garam dan sebotol air di kantongnya, agar jika diperlukan dia dapat segera menelan garam dan meneguk sedikit air dari botol tersebut supaya tekanan darahnya sedikit naik. Meski demikian dia mampu melanjutkan perang bersama para pemuda yang lain.

Sebenarnya, seperti kata saya tadi, panjang sekali waktunya kalau saya mau menceritakan kisah mereka satu per satu. Tiap orang di antara mereka menghi­dup­­kan harapan. Setiap ada yang mati syahid di antara mereka, maka yang lain merasa bahwa dirinya sangat kecil, dan memandang sekiranya mereka tidak lebih utama di sisi Allah, tentu Allah tidak akan memilih mereka (sebagai syahid) hanya dalam waktu setahun saja. Saya sendiri sejak delapan tahun yang lalu men­cari syahadah, namun demikian masih saja belum dika­ru­niakan syahadah. Orang-orang Afghan pada ber­do’a: “Ya Allah berikanlah kami kemenangan di Kabul, dan jangan matikan kami kecuali di Baitul Maqdis.” Mereka bertanya kepada saya : “Apa pendapatmu hai Syaikh Abdullah?” Saya hanya berkata : “Ya Allah, karuniakanlah padaku syahadah dalam waktu segera, Ya Rabbil ‘Alamien. Oleh karena hati manusia itu berada di tangan Ar Rahman, kita tidak tahu, Dia membolak-balikannya menurut kehendak-Nya,

“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikan hati (manu­sia), tetapkanlah hati saya untuk senantiasa berasa di atas Dien-Mu.”

Saya mengharap Allah ‘Azza wa Jalla berkenan mengkaruniakan syahadah pada saya. Jika memang Allah mentakdirkan saya masih hidup, maka saya akan kembali ke Palestina dan berjihad di sana. Mudah-mu­dah­an Allah membukakan jalan bagimu untuk ber­jihad di Palestina, insya Allah”

Dalam kesempatan ini, saya akan menceritakan pada kalian tentang bapak saya, beliau sudah berumur 90 tahun. Dia tinggal bersama saya di Peshawar. Saya pernah membawanya ke Kamp Latihan, dan menga­jar­kan senjata AKA serta cara menembakkannya. Saya katakan padanya : “Pak, Bapak saya beri AKA.” Dia menjawab : “Tidak … (saya punya) senapan bikinan Inggris yang saya gunakan berperang tahun 1948.” … senapan Inggris … Sayyaf mengatakan padanya : “Ini saya yang nanggung … hadiah dari saya”. Setiap kali melihat Sayyaf atau Hekmatyar atau Yunus Khalis atau yang lain, maka beliau memegang tangannya dan mengatakan padanya : “Ulurkan tanganmu, dan ber­janjilah bahwa engkau akan pergi ke Masjidil Aqsho dan berjihad di sana.” Maka yang dipegang itu pun menjawab : “Saya berjanji padamu bahwa sesudah berperang di Afghanistan (insya Allah) saya akan pergi ke Masjidil Aqsho dan berjihad di sana.” Dan setiap kami pergi menemui mereka, bapak saya mengingatkan mereka : “Janji ya Sayyaf .. janji.” Dan Sayyaf membalas : “Dengan izin Allah kami akan ber­pindah ke Masjidil Aqsho.” Suatu kali, saya mengucap­kan selamat tinggal padanya dan pergi ke front. Air matanya bercucuran dan berkata : “Apa gunanya wahai anakku? Telah berlalu masa mudaku, yang mungkin dapat menjadikanku sebagai syahid. Seka­rang kesempatan tersebut terbuka, sementara tulangku telah rapuh dan punggungku telah bengkok.”

Para wanita di sana berbeda dengan wanita-wanita kalian di sini. Saya berada di Kamp Latihan, saat mulai berkobar peperangan di Jalal Abad. Salah se­orang ikhwan datang pada saya dan mengkhabar­kan: “Putra-putramu meninggalkan sekolah, menumpang kendaraan dan pergi ke Jalal ‘Abad.” Maka saya kem­bali ke Peshawar dan melihat , ternyata wanita juga tidak ada di rumah. “Dimana isteri saya” Mereka men­jawab : “Demi Allah, ada ikhwan yang mati syahid, Abu Hisyam As-Suri (dari Syiria). Dia pergi ta’ziyah ke keluarganya, menghibur perasaan duka mereka, meng­atur urusan-urusan wanita Arab lainnya yang da­tang menjenguk, membuatkan makanan untuknya, dan seterusnya.”

Peperangan berlangsung, sementara kaum wanita menguli adonan, membuat kue dan mengirimkannya kepada mujahidin. Perbincangan di antara mereka se­lama menjalankan aktivitasnya adalah : “Hari ini Fulan terluka, Fulan mati syahid, Fulan dari darahnya keluar bau wangi, Fulan bercahaya wajahnya, Fulan muncul sinar dari dalam kuburnya. Dan saya berharap ini menjadi topik pembicaraan istri-istri kalian juga di sini, Wallahu a’lam.

Berkaitan dengan keadaan keluarga Sa’ad Ar-Rusyud (semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadanya) saya mengetahuinya. Ia punya tiga orang anak lelaki. Sa’ad yang telah mati syahid serta dua yang lainnya. Sang ibu berkata kepada putranya yang tengah-tengah di antara mereka : “Pergilah kamu menyu­sul saudaramu, cukup satu saja yang bersama­ku.” Ketika beberapa orang wanita datang ke rumah­nya untuk berta’ziyah, maka sang ibu ini mengatakan pada mereka : “Jika kalian datang ke sini untuk meng­ucapkan selamat padaku atas syahidnya Sa’ad, maka selamat datang untuk kalian. Jika tidak untuk itu, maka saya tidak butuh pada ta’ziyah (pernyataan bela sung­kawa) kalian.” Ucapannya itu mengingatkan kita pada sikap Khonsa’ Rodhiyallahu ‘Anha. ketika diberi khabar akan kesyahidan keempat putranya. Dia ber­ujar : “Alhamdulillah yang telah memberikan kehor­ma­t­an pada saya dengan kematian mereka (di medan jihad)”

Lantas coba kita lihat ibu-ibu kita sekarang yang menghubungi wakil mujahidin di Peshawar dan me­nangisi putra-putra mereka yang melakukan perja­lan­an ke sana. Bahkan bapak-bapak pergi ke sana mene­mui mereka serta berupaya mengembalikan mereka dari jihad. Saya ingat beberapa pemuda, bukan hanya se­orang pemuda tetapi saya ingat hanya seorang yang telah pergi berjihad. Lalu bapaknya datang meng­ambil­nya, menarik pasportnya, dan memberikan padanya pasport lain yang hanya bisa untuk mengunjungi satu negeri saja di wilayah Teluk.”

Tiadalah mereka (para orang tua) meninggalkan kedutaan di Islam Abad ataupun pihak berwenang di Pakistas melainkan mereka menyampaikan pengaduan, bahwa ‘Abdullah ‘Azzam telah mengambil putra-putra mereka. ‘Abdullah ‘Azzam hendak membunuh putra-putra mereka. Tiap hari datang aparat keamanan me­nemui saya dan menanyakan : “Di mana Fulan dan di mana Fulan.” Puluhan orang, dan kisah-kisah mereka sangat panjang untuk saya ceritakan, dan cukuplah Allah sebagai pelindung bagi kami, dan Dia adalah sebaik-baik pelindung”.

Foto Sang Pahlawan Islam Usamah bin Ladin dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Al Jazeera

Masih di kitab Tarbiyah Jihadiyah Jilid 11, Asy Syahid Syaikh Abdullah Azzam ditanya : “Saya pemuda, bisa mengendarai tank, adakah kalian bersedia menerima saya bersama kalian ?”

Lalu Syaikh menjawab : Dengarkan ! Kami menerima ke­datangan setiap ikhwan Arab yang hendak datang berjihad. Akan tetapi, ikhwan kita Usamah bin Ladin (semoga Allah memuliakan insya Allah, serta mem­berikan berkah atasnya pada Dien, harta dan keluarga­nya) dia yang selama ini menanggung biaya tiket (perjalanan, ed), makan, tempat kediaman, dan tanggungan keluarga tia
p ikhwan Arab yang datang berjihad, tiap ikhwan Arab. Akan tetapi sekarang beban kami semakin berat. Pertama kali dahulu kami hanya sedikit sekitar 50 atau 60-an orang. Alhamdulillah sekarang lebih seribu orang, kami tidak bisa lagi membayarkan ongkos tiket ataupun menanggung ikhwan yang datang sementara dia sudah berkeluarga. Jika memang kalian mencintai jihad, khususnya bagi orang-orang Palestina, wahai ikhwan-ikhwan, ini memang medan kesulitan, maka curahkan semua bekal kalian, akan beruntung siapa yang ber­untung dan akan merugi siapa yang merugi. Siap­kan­lah putra-putra kalian, putra-putra Palestina yang ber­gelora jiwa mereka untuk membebaskan negeri mereka. Siapkanlah mereka (agar menjadi pemuda-pemuda yang tangguh). Oleh karena sekarang para pemuda yang datang dari Palestina dan dari Yordania, di sana setiap orang dari mereka di benaknya terpatri ke­ingin­an : “Kapan saya dapat memindahkan jihad ke Masjidil Aqsho.” Telah pecah dinding penghalang ketakutan, mereka menjadi bebas dan merdeka, moral mereka meningkat, dan mulai berpikir tentang nasib bangsa­nya. Orang Palestina yang ingin (dengan sungguh-sungguh merebut kembali negeri Palestina), maka hendaknya setiap sepuluh orang Palestina menang­gung biaya hidup satu orang dan mengirimkannya (untuk berlatih), menanggung biaya hidup keluarganya dan menanggung biaya tiket pulang balik. Agar mereka di sana dapat ikut terjun di salah satu peperangan, ber­latih. Sekarang ini bentuknya perang kota, dan per­tem­puran yang ditunggu-tunggu meletusnya di Pales­tina adalah perang kota. Dan tidak didapati negeri untuk membina moral dan mental mujahid dalam kehidupan nyata kecuali di Afghanistan. Keadaan jihad di sanalah yang akan mendorong semangatnya … Demi Allah …, andaikata saya jadi pemimpin di negeri-negeri Arab, niscaya saya akan mengirimkan dari setiap negaranya 1000 orang perwira supaya mereka berlatih di Afghanistan dalam latihan perang sung­guh­an. Demi Allah, andaikata para pemimpin-pemimpin Arab sadar dan mengirimkan perwira-perwiranya ke Afghanistan niscaya mereka akan pulang dengan se­abrek pengalaman perang yang tak ada bandingannya, yang tak mungkin mereka dapatkan di tempat lain manapun di dunia, dan gratis lagi; makannya cuma kuah, roti tanpa gula. Orang-orang Afghan biasa makan roti yang dicelupkan dalam kuah minyak samin, tanpa ada apa-apa. Silahkan makan sampai kenyang, mereka tak akan menanggung sedikit pun biaya untuk perwira-perwira yang mereka kirim. Sementara jika mereka mengirimkan untuk berlatih di Amerika dan di negara-negara Eropa, maka mereka menanggung biaya puluhan ribu dollar (tiap orangnya). Padahal mereka bisa melatihnya tanpa harus menanggung biaya kecuali hanya seratus Dollar. Mereka yang besungguh-sungguh dari orang Palestina, yang bersungguh-sungguh dalam membebaskan dunia Islam dari cengkeraman orang-orang kafir, haruslah menyiapkan diri mereka dengan persiapan seperti itu. Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan I’dad itu sebagai tanda kesung­guhan / kejujuran.

“Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka me­nyiap­kan persiapan untuk keberangkatan itu.” (QS At Taubah : 46)

Saya berikan kabar gembira pada kalian bahwa Daulah Islam akan berdiri di Afghanistan –dengan izin Allah– dan saya berikan khabar gembira kepada kalian bahwa itu akan tiba dalam waktu dekat insya Allah, dengan izin Allah, sebagaimana kita lihat. Daulah Islam pertama yang tegak melalui perjuangan dengan tombak dan pedang. Dan saya berikan khabar gembira kepada kalian bahwa daulah ini adalah daulah per­tama yang lepas dari genggaman dunia dan keputusan-keputusan yang mendikte perjalanan pemerintahan­nya, berpijak pada petunjuk dari Kitabullah dan sunnah Nabi SAW… Dan saya berikan khabar gembira kepada kalian bahwa jihad di Afghanistan adalah sebagai awal mula perubahan peta kekuatan dunia dan akan merubah perjalanan sejarah insya Allah.

“Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebe­nar­an) berita al-Qur’an setelah beberapa waktu lagi.” (QS. Shood : 88)

Dan kalian akan mengingat apa yang saya katakan kepada kalian saat ini, kalian akan melihat dengan izin Allah bahwa banyak dari kondisi kaum muslimin di dunia akan mengalami perubahan ke arah yang lebih baik, ke arah keteladanan (bagi yang lain). Dan kalian akan menyaksikan, dengan izin Allah, akan terjadi ba­nyak perubahan-perubahan di permukaan bumi sete­lah kemunculah cahaya ini, yang berasal dari bumi Afghanistan. Dan kalian akan mengetahui suatu waktu nanti bahwa kalian tidak benar-benar memper­hitung­kan keberadaan jihad Afghan dan menyia-nyiakannya. Apa beratnya bagi kaum muslimin andaikata mereka mengadakan pesta pe­raya­an di setiap masjid menyam­but kemenangan yang be­lum pernah disaksikan selama tiga abad terakhir ini oleh umat Islam. Apa sulitnya bagi kaum muslimin andai­kata mereka mengirimkan utusan dari setiap negerinya guna menyampaikan ucapan selamat pada mujahidin Afghanistan atas kemenangan di mana Allah memuliakan Dien-Nya, meninggikan bendera-Nya, dan membuat tegak kepala setiap muslim karenanya ?! Apa beratnya bagi kaum muslimin untuk menyisihkan 5% dari gajinya pada bulan-bulan mendatang untuk membantu berdirinya Daulah Islam di muka bumi.?!

Apa beratnya bagi kaum muslimin untuk mema­suk­­kan program khusus harian dalam tayangan televisi mereka selama seperempat jam, menceritakan kisah-kisah pahlawan Islam –sebagai ganti film kartun–me­nyampaikan kisah-kisah nyata kepada para pemirsa yang berfungsi untuk mendidik para anak-anak dan mem­bangun jiwa mereka dengan pembinaan jihad Islam.

Apa beratnya bagi kaum muslimin andaikata mereka ke bumi Afghanistan seperti kunjungan yang pernah dilakukan oleh Nixon dan Carter.

Apa beratnya bagi kaum muslimin andaikata mereka mendorong putra-putra dan pemuda-pemuda mereka supaya mereka dapat meraih puncak kemuliaan di ufuk yang tinggi, merasakan dan mengecap manisnya rasa kemuliaan di atas bumi Hindukystan. Saya bermohon kepada Allah ‘Azza wa jalla, agar kiranya Dia berkenan membuka penglihatan mata hati kita, sesungguhnya Dia Maha Mendengar , Maha Dekat lagi Maha mengabulkan permohonan.

Ada lagi catatan Asy Syahid Syaikh Abdullah Azzam rohimahulloh tentang Syaikh Usamah bin Ladin ketika sama-sama berjihad di Afghanistan yang ditorehkan pada tulisan yang berjudul “The Lofty Mountain” yang diterbitkan oleh Azzam Publications (http:www.azzam.com/).

Asy Syahid mengatakan, “Demi Allah, aku bersumpah aku takkan pernah mampu menemukan seorang yang setara dengannya (maksudnya Usamah bin Ladin, ed) di seluruh dunia Islam, jadi kita memohon kepada Allah untuk menjaga agamanya dan hartanya, dan agar memberkahi kehidupannya”

Ketika berbicara mengenai keluarga Syaikh Usamah, Asy Syahid mengatakan, “Dia hidup di rumahnya dengan kehidupan orang yang melarat. Dulu aku terbiasa mengunjungi rumahnya di Jeddah disaat aku pergi untuk haji atau umroh, dan aku tidak pernah menemukan sebuah meja atau sebuah kursi dalam rumahnya: seluruh rumahnya. Dia menikahi empat istri dan di seluruh rumahnya aku tak pernah melihat sebuah meja maupun kursi. Rumah pekerja Yordania atau Mesir bahkan lebih baik dibanding dengan rumah Usamah. Pada saat yang sama, jika kamu meminta kepadanya jutaan riyal untuk Mujahidin, dia akan menuliskan sebuah cek jutaan reyal untukmu”

Lalu mengenai kepribadian Syaikh Usamah, Asy Syahid menuturkan, “Orang-orang Afganistan melihat orang arab layaknya seorang lelaki yang meninggalkan perniagaannya, pekerjaannya dan perusahaannya di Saudi Arabia, atau di teluk Yordania, dan hidup dengan kehidupan roti dan teh basi di puncak-puncak pegunungan. Dan mereka akan melihat Usamah Bin Ladin layaknya seorang lelaki yang telah meninggalkan bisnisnya yang sukses dalam merenovasi Masjidil Haram milik Rosulullah SAW di Madinah untuk saudara-saudaranya hingga ia pun kehilangan bagiannya (2.5 juta dolar) lalu melemparkan dirinya ke tengah-tengah pertempuran”.

“Kita memohon kepada Allah ta’al
a agar menjaga saudara kita, Abu Abdillah Usamah Bin Ladin; lelaki inilah, kedua mataku tak pernah melihat lelaki semisal ini di seluruh dunia.”

“Lelaki ini melambangkan seluruh negara.”

“Usamah mendatangi salah satu saudara perempuannya dan menyodorkan fatwa Syekh Ibnu Taimiyyah tentang kewajiban untuk pergi berjihad, kemudian dengan segera saudara perempuannya mengambil buku ceknya dan memberinya sebuah cek yang bernilai 8 juta riyal (2.5 juta dolar). Orang-orang berkata kepadanya : “Apa kamu sudah gila? 8 juta riyal dalam sekali sumbangan?”. Banyak dari kaum muslimah yang berusaha merayunya untuk tidak melakukannya; dan banyak kaum muslimin yang berusaha mengecilkan hati suami saudara perempuan Usamah dan mereka berkata kepada saudara perempuannya ini :

“Kamu hidup dalam rumah sewaan: untuk membangun sebuah rumah untukmu hanya membutuhkan biaya satu juta riyal (275 ribu dolar), lalu kenapa Kamu tidak menggunakan satu juta riyal dari sumbanganmu untuk membangun rumah sendiri? Setelah itu, dia pergi menuju saudara laki-lakinya, Usamah, dan berkonsultasi dengannya tentang satu juta riyal untuk membangun sebuah rumah baginya. Lalu Usamah pun berkata : “Demi Allah, bahkan tidak satu riyal pun! Kamu hidup dalam sebuah rumah yang luas ketika orang-orang meregang nyawa, bahkan tak mampu untuk menemukan sebuah tenda untuk bertempat tinggal”.

“Ketika dia duduk denganmu, kamu akan merasakan bahwa dia adalah seorang pembantu di antara para pembantu rumah, dengan sopan santun dan kedewasaannya. Demi Allah, kami melihatnya seperti itu. Saya pernah berkata kepada Syekh Sayyaf sekali, “Jagalah lelaki ini agar selalu bersamamu dan laranglah dia untuk memasuki peperangan”. Mengingat dia, di lain sisi, selalu nekat untuk pergi dan menghadapi musuh secara langsung.”

“Percayalah kepadaku, kapan pun dia datang ke rumahku di Peshawar dan Aku perlu untuk melakukan telpon, dia akan pergi dan mengambilkan telpon untukku dan menaruhnya di depanku, agar aku tidak beralih dari posisiku. Sopan santun, kesederhanaan, kedewasaan : semoga Allah menjaganya.”

“Petama kali dia mengundangku untuk datang ke rumahnya adalah di bulan Romadhon. Pada saat maghrib, dia membawa sebuah piring yang dipenuhi nasi dengan sedikit tulang dalam lapisan daging, dan dua atau tiga kebab.”

“Sayyid Dhiya’, (seorang komandan Afganistan di Aliansi Utara, kemenakan Sayyaf dan salah seorang yang memerangi Mujahidin pada saat perang salib di Afganistan yang bermula tahun 2001), memberitahu kepada seorang jurnalis koran Prancis, Le Monde, “Kami tahu Usamah adalah seorang yang kaya, tapi Dia terbiasa hidup di antara kami dalam kehidupan yang sederhana dan tidak berkecukupan. Dia dikepung oleh orang-orang Rusia dalam dua peristiwa: Satu di antara dua peristiwa itu terjadi dalam peperangan yang berakhir selama 24 hari, dan inilah peperangan paling lama yang pernah aku ikuti dalam seluruh hidupku.

Usamah dikepung selama 7 hari, di puncak gunung, dia bersama dengan 100 pasukannya. Mereka digempur dengan senjata berat secara terus menerus dari arah tentara Rusia, maka Usamah memberi perintah untuk mencegat jalan darat yang terbuka untuk memotong rute suplai pasukan Rusia, dan kemudian menyerang pasukan Rusia pada hari ke-7, dan menjadi pemenang dalam pertempuran itu.

Usamah dan orang-orang Arab sangat berani, sungguh – dan semenjak pertempuran itu Aku tak pernah melihat sebuah pertempuran yang seganas pertempuran saat itu. Jujur saja, kami saat itu sangat ketakutan dengan serangan yang terus menerus ditujukan kepada kami, dan kami terus menanti di dalam parit perlindungan kami agar pasukan Rusia mendekati kami sehingga kami bisa menembak mereka.

Orang-orang Arab, di satu sisi, pada saat pertempuran tersebut, mereka melompat dari parit perlindungan dan menghadapi musuh secara langsung: mereka sangat bersemangat untuk memerangi musuh tangan ke tangan, sedangkan tak seorang Afgan pun yang disiapkan untuk melakukan hal itu”.

Selesai kutipan.

***

Walhamdulillahirobbil’alamiin, kami rasa ini cukup bagi orang yang ingin mengetahui kebenaran.

Sungguh, mereka yang memilih percaya kepada penelitian (baca: penipuan) dari ‘akademisi’ barat yang berbicara Peristiwa 911 dari kacamata konspirasi, tentu mengatakan bahwa sosok Pahlawan Islam Abu Abdillah Usamah bin Ladin adalah rekaan, bahkan khayalan.

Lalu mereka menyebarkannya ke berbagai sarana mereka, entah buku, entah website, entah jurnal-jurnal ‘ilmiah’, sungguh rugi kalian. Ketahuilah bahwa kalian telah berdosa dua kali. Dosa yang pertama adalah memilih menerima informasi dari orang kafir (padahal informasi itu dusta), dan dosa yang kedua adalah ikut berpartisipasi menyebarluaskan informasi dusta dan fitnah kepada islam dan kaum muslimin. Semoga Alloh ta’ala mengampuni kalian dan juga kami.

Wallohu a’lam bish-showab, wallohut-taufiq.

One thought on “Asy Syahid Syaikh Abdullah Azzam Menuturkan Pahlawan Islam Abu Abdillah Usamah bin Ladin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s