Siapakah Zionis Israel Itu? (8-Habis)

Perdana Menteri pertama Singapura, hasil Pemilu 1955, bernama David Saul Marshall. Dialah pemimpin Partai Buruh yang juga berasal dari keluarga Yahudi Ortodoks Iraq. Kemenangan Marshall tentunya tak lepas dari lobi Yahudi di negeri mini ini.

Selain Marshall, Perdana Menteri yang sangat berpengaruh sehingga dijuluki sebagai ‘Bapak Singapura’ adalah Lee Kuan Yew. Lee sejak lama diketahui telah tertarik dengan Zionis-Israel dan menganggap Singapura memiliki banyak kemiripan dengan Israel.

Secara geopolitik, Singapura dan Israel sama-sama kecil dan sama-sama “dikepung” oleh negara-negara besar yang memiliki perbedaan mencolok. Jika Zionis-Israel dikepung oleh bangsa-bangsa Arab yang selalu memusuhinya, maka Singapura yang mayoritas Cina pun selalu merasa dikepung oleh bangsa-bangsa Melayu. Kebetulan, bangsa Melayu identik dengan Islam, sama seperti Arab. Jadi baik Israel maupun Singapura sama-sama merasa dikepung oleh bangsa-bangsa yang berideologi Islam.

Bukan itu saja, secara pribadi Lee juga sangat terkesan dengan sistem pertahanan dan intelijen Israel yang mampu tetap eksis bahkan menjadi negara kecil yang “super power” di tengah bangsa-bangsa besar yang menjadi musuhnya. Kecil-kecil cabe rawit, demikian pikir Lee terhadap Israel, dan Singapura harus menjadi seperti Israel di Asia Tenggara.

Pemikiran ini sudah dimiliki Lee sebelum Singapura merdeka dari Malaya. Bahkan di tahun 1962, Lee telah menjalin kontak yang erat dengan Duta Besar Israel untuk Bangkok, Mordechai Kidron, guna membangun angkatan bersenjata Singapura. Goh Keng Swee, pada waktu Lee Kuan Yew berkuasa dipercaya merangkap jabatan Menteri Keuangan sekaligus Menteri Pertahanan Singapura, menjadi penghubung antara Lee dengan Kidron.

Atas restu Lee, Goh sering terbang ke Bangkok menemui Mordechai Kidron. Mordechai Kidron menerima Goh dan menyanggupi rencana Singapura untuk menjadikan Israel sebagai “arsitek” sistem pertahanan militer dan jaringan intelijen Singapura. Tak sampai beberapa hari, Kidron segera ganti terbang ke Singapura menemui Lee Kuan Yew. “Sejak saat itu, Kidron mendatangiku beberapa kali antara tahun 1962 hingga 1963 khususnya untuk membahas pembukaan kedutaan besar Israel di Singapura,” ujar Lee (seperti dikutip dalam Lee Kuan Yew: From Third World to First, Singapore, 1963-2000: Building an army from scratch).

Di bawah kepemimpinan Lee, Singapura tumbuh menjadi satu negara kecil yang besar dan kuat. Kecil dipandang dari sudut luas geografis, namun besar dan kuat dalam pengaruhnya atas politik regional maupun perdagangan internasional. Tanggal 21 September 1965, Singapura diakui dan tercatat sebagai anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Angkatan Bersenjata Singapura Lahir Dari Rahim Zionis Israel

Harian Ha’aretz terbitan Israel edisi 15 Juli 2004 memaparkan kesaksian sejumlah mantan perwira senior tentara Zionis-Israel tentang hubungan antara negara Zionis ini dengan Singapura. Ha’aretz dengan penuh kebanggaan menceritakan bahwa Israel adalah negara yang membangun dan mencetak sistem pertahanan, intelijen, dan komando tentara Singapura dari awal hingga sekarang.

Dalam sidang parlemen Singapura tahun 1999 dilaporkan data bahwa negeri liliput ini telah menghabiskan 7,27 milyar dolar dalam setahun untuk membangun dan memutakhirkan sistem pertahanannya. Ini berarti sekitar 25% dari anggaran belanja negara itu diperuntukkan bagi anggaran militer.

Sebuah laporan dari Asian Defense Journal (2000) menyebutkan bahwa Singapura memiliki sedikitnya sepuluh jet tempur F-16D, empat pesawat jet tempur F-16B, delapan F-5T fighters, dan tigapuluh enam buah F-5C fighters, yang seluruhnya diperlengkapi dengan sistem persenjataan dan suku cadang yang komplit. Beberapa sumber lain bahkan menyebutkan jika Singapura telah memiliki seratusan pesawat jet tempur lengkap dengan sistem persenjataannya, sederetan Rudal rapier lengkap dengan radar otomatik, empat kapal selam canggih bikinan Swedia, dan aneka peralatan tempur modern lainnya.

Menteri Pertahanan Goh Keng Swee bisa dianggap sebagai salah satu orang Singapura pertama yang meletakkan ide menggunakan jasa Zionis-Israel sebagai arsitek pembangun cetak biru sistem pertahanan dan keamanan Singapura. ”Yang bisa membantu Singapura hanyalah Israel. Sebuah negara kecil yang dikepung oleh negara-negara Muslim tapi mempunyai basis militer yang kuat. Hanya Israel yang mampu membangun militer yang dinamis di sini,” papar Goh Keng Swee.

Setelah itu pemerintah Singapura diam-diam menjalin kontak dengan Israel. Permintaan Singapura disambut hangat negeri zionis tersebut. Berbagai persiapan pun digalang kedua belah pihak dengan amat intensif. Sebuah tim rahasia dengan sandi “Mexicans” pimpinan Kolonel Yaakov Elazari dari Israeli Sayeret (Israel Defence Force, IDF) dibentuk dan diperintahkan untuk segera ke Singapura. Tim ini mempunyai satu misi penting: membangun cetak biru sistem pertahanan keamanan dalam skala nasional. Salah satu hal yang pertama akan dilakukan tim ini adalah menciptakan komandan-komandan lapangan yang tangguh bagi tentara nasional Singapura.

Dari Bandara Ben Gurion, Israel, “Mexicans Team” yang diperlengkapi dengan paspor sekali pakai dengan identitas palsu ini berangkat ke Singapura. Mereka bersama keluarga tidak langsung ke negeri kecil itu, tetapi berpindah pesawat beberapa kali di berbagai negara Eropa, transit satu-dua hari, baru ke Singapura. Ini merupakan prosedur standar intelijen untuk menghindari penciuman dinas rahasia negara musuh atau pihak-pihak yang tidak berkepentingan.

Sehari sebelum Natal tiba, 24 Desember 1965, enam orang perwira IDF lengkap dengan seluruh anggota keluarga mereka telah mendarat di Bandara Internasional Changi. Bagai turis dari Eropa yang ingin berlibur dengan keluarganya, rombongan itu dijemput sebuah bus travel da menghilang di tengah keramaian lalu lintas negara kota tersebut Kolonel Yaakov Elazari dan Yehuda Golan termasuk di antaranya.

Setibanya di Singapura, mereka segera menempati sebuah gedung yang dijadikan rumah tinggal. Tugas keenam perwira Israel ini adalah merekrut dan melatih para calon tentara Singapura. Latihan yang diberikan pada calon taruna tentara Singapura pun amat berat dan dengan disiplin amat tinggi. Para taruna wajib bangun sebelum pukul 5.30 dan langsung latihan hingga pukul 13.00.

Pernah ada satu kasus di mana para taruna mengajukan protes kepada Kolonel Yehuda Golan atas kerasnya latihan yang mereka terima. “Kolonel Golan, orang-orang Arab tidak sedang menduduki kepala kami. Apakah perlu latihan segila ini?” protes salah satu taruna yang menjadi juru bicara teman-temannya.

Yehuda Golan segera menyampaikan protes itu pada Elazari. Lantas oleh Elazari diteruskan kepada Menteri Pertahanan Singapura, Goh Keng Swee. Keesokan harinya, Goh Keng Swee melakukan kunjungan mendadak di base camp. Pagi-pagi sekali, para taruna itu dibariskan di lapangan apel bendera. Di depan para taruna, dengan nada tinggi sang menteri mengancam mereka, “Lakukan semua yang diperintahkan Kolonel Golan. Jika tidak, kalian akan melakukannya dua kali lebih keras! Ini bukan ancaman tapi janji saya kepada kalian!”

Setelah diancam demikian, para taruna tersebut terdiam. Rasa nasionalismenya kembali membubung tinggi saat para instrukturnya yang dari Israel selalu mengingatkan bahwa setiap saat Singapura selalu dalam keadaan bahaya karena memiliki negara tetangga yang merupakan negara-negara Muslim yang besar. Dan hasilnya sungguh menakju
bkan. Kurang dari setahun Israel bisa mencetak ratusan komandan dalam pasukan Singapura.

Di kemudian hari terbukti, kerja The Mexicans Team sungguh luar biasa. Setelah sukses menuntaskan misi di Singapura, Yaakov Elazari naik pangkat menjadi Brigadir Jenderal. Setelah pensiun dari dinas Israeli Sayeret, Elazari tetap dipertahankan menjadi konsultan ahli angkatan bersenjata Singapura, bolak-balik Israel-Singapura.

Yaakov Elazari dan Yehuda Golan bisa disebut sebagai “Bapak Tentara Singapura” sebenarnya. Beberapa buku pedoman kemiliteran Singapura disusun keduanya. Ada “Buku Coklat” (Brown Book) yang mengulas panjang lebar namun sistematis tentang doktrin pertempuran, ada pula “Buku Biru” (Blue Book) yang berisi aturan dan peran Menteri Pertahanan dan dinas intelijen. Kolonel Yehuda Golan pernah mengakui jika dirinya memegang peranan utama dalam penyusunan konsep tentang pasukan infanteri.

*

Sejarah telah mencatat jika Singapura memang sangat akrab dengan Zionis-Israel dalam banyak hal. Sebab itu, tidaklah mengherankan jika para kolaborator Zionis-Israel yang ada di Indonesia sangat akrab dengan negeri mini tersebut.

Rencana perayaan peringatan HUT Zionis-Israel yang dilontarkan Unggun ‘Samuel’ Dahana pada hari Sabtu, 14 Mei 2011, memang batal. Namun Nur Muhammad ‘Benjamin’ Ketang bersama sejumlah koleganya ‘berhasil’ merayakan di sebuah kamar hotel di daerah Puncak, Jawa Barat. Anehnya, polisi sampai hari ini tidak berbuat apa-apa terhadap kolaborator Zionis ini yang jelas-jelas menistai Konstitusi Negara Indonesia.

Hal ini diyakini merupakan semacam test the water, uji coba, untuk melihat reaksi masyarakat negeri ini terhadap Zionis-Israel. Hal ini tidak akan dilakukan sekali ini saja, namun tak mustahil di masa depan juga akan timbul uji coba-uji coba baru. Dan bagaimana nantinya, sikap umat Muslim Indonesialah yang akan menjadi ukurannya. [Tamat/rz]

source: http:www.eramuslim.com/berita/laporan-khusus/siapakah-zionis-israel-itu-8-habis.htm

Siapakah Zionis Israel Itu? (7)

Bukan rahasia umum lagi jika Singapura merupakan surga persembunyian para maling uang rakyat Indonesia. Orang menyebut mereka dengan istilah ‘koruptor’, namun saya lebih suka menggunakan istilah ‘Maling uang rakyat’.

Sekarang ini, media nasional tengah gencar membahas dua pelarian dari Indonesia di Singapura. Pertama, Nunun Nurbaeti. Nunun adalah isteri anggota DPR dari Fraksi PKS Jend. (Pol) Adang Daradjatun, yang telah ditetapkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka kasus suap cek pelawat terkait proses pemilihan Miranda Goeltom sebagai Gubernur Bank Indonesia. Nunun yang mengaku sakit ingatan sejak lama sudah bersembunyi di Singapura.

Yang kedua, Nazaruddin, Bendahara Partai Demokrat yang tersandung kasus suap Wisma Atlet, juga kabur ke Singapura sebelum imigrasi mengeluarkan pencekalan.

Ikhwal Singapura sebagai surganya para maling Indonesia mulai mencuat bersamaan dengan badai krisis moneter di Indonesia pada tahun 1997-1998. Sebuah tabloid bisnis Indonesia menurunkan sebuah artikel menarik yang mendeskrisikan bagaimana enaknya kehidupan para konglomerat maling yang bersembunyi di Singapura, hidup dengan uang rakyat Indonesia yang telah dimalingnya, inilah petikannya:

Sudah menjadi pengetahuan umum, untuk memakmurkan negaranya yang tidak memiliki kekayaan alam, Singapura amat agresif menarik orang-orang yang dipandang memiliki kelebihan—terutama asset kekayaan dari bisnis—untuk menjadi waga negaranya. Di Jakarta, sebagian professional perbankan dan financial yang berusia di bawah 50 tahun, khususnya mereka yang berdarah keturunan Cina atau India, selalu disambangi staf kedutaan Singapura guna direkrut menjadi warga negaranya.

Selain itu, Singapura secara terang-terangan juga menawarkan kemudahan bagi para pelaku bisnis untuk mendapatkan status permanent residence. Syaratnya, para pelaku bisnis harus membayar Sing$1,5 juta (sekitar 8 miliar rupiah) dalam Deposit Scheme Foreign Entrepreneur atau menanam uangnya pad abiding bisnis yang disetujui Economic Development Board. Singapura juga memberi kekhususan bagi para nasabah dari Indonesia dan Thailand dan menjamin keamanan uang mereka di negeri kecil tersebut.

Tidak adanya perjanjian ekstradisi antara Singapura dan Indonesia (Singapura selalu menolak menandatangai perjanjian), menjadikan para koruptor dan konglomerat hitam Indonesia bisa hidup dengan tenang. Sebab itulah, mereka banyak menimbun hartanya di sini. Di Indonesia mereka dihujat, di Singapura mereka hidup tenang dan bermewah-mewah. Salah satu contoh yang paling kasat mata bisa dilihat dari kepemilikan sektor properti. Dari data yang ada, nyaris 99% konglomerat hitam punya properti di Singapura.

Distrik 10 dan 15 adalah distrik terpopuler di Singapura sebagai kawasan kaum berpunya asal Indonesia. Jelas, kawasan ini bukan tempat sembarangan. Distrik 10 adalah distrik paling elit di Singapura yang meliputi daerah Orchard Road, Holland Road, dan Bukit Timah Area. Sementara itu, Distrik 15 yang berada di timur biasa dikenal sebagai East Coast Area, meliputi daerah Katong dan Meyer Road.

Di Bukit Timah Area, Martina Sudwikatmono, anak dari konglomerat Sudwikatmono memiliki properti mewah. Pentolan Grup SInar Mas, Eka Tjipta Wijaya, yang memiliki utang segunung di Indonesia, tinggal di daerah Meyer Road, khususnya di Coastarahu. Mereka memiliki enam tower yang masing-masing terdiri dari 8 hingga 24 lantai. Padahal, harga properti di daerah ini bisa mencapai 44 juta rupiah permeter perseginya! Bisa dibayangkan, berapa banyak uang yang dibenamkan Grup Sinar Mas untuk enam towernya itu.

Selain Sinar Mas, ada Syamsul Nursalim di sini. Melalui Tuanshing, perusahaannya di Singapura, pemilik BDNI, Gajah Tunggal Grup, dan Dipasena ini menguasai banyak property di Distrik 10. Lalu keluarga Gondokusumo, yang memusingkan pemerintah RI dengan asset-aset palsunya, juga punya banyak properti mewah di daerah Bukit Timah dan Distrik 15. Ada pula Boyke Gozali dari Grup Ometraco, yang perusahaan holdingnya di Indonesia dalam proses likuidasi, punya apartemen mewah di Steven Road.

Juga keluarga Ongko (pemilik Bank Umum Nasional, BUN), Sudjiono Timan (mantan Dirut Bahana yang memiliki tunggakan perkara di Kejaksaan), Samadikun Hartono (Grup Modern tersangka BLBI), mereka semua punya properti mewah di Singapura.

Gambaran di atas sebenarnya baru sebagian kecil. Ada banyak konglomerat hitam dan maling lainnya asal Indonesia yang berfoya-foya dengan uang rakyat Indonesia, sedang rakyat Indonesia sendiri kini hidup tambah melarat dan kian sekarat.

Sejumlah nama konglomerat hitam yang kabur dan ngumpet di Singapura antara lain adalah :

· Sjamsul Nursalim, kasus BLBI Bank BDNI, merugikan negara Rp 6,9 triliun plus 96,7 juta dolar AS.

· Bambang Sutrisno, kasus BLBI Bank Surya, merugikan negara Rp 1,5 triliun.

· Andrian Kiki Ariawan, kasus BLBI Bank Surya, merugikan negara Rp 1,5 triliun.

· Eko Adi Putranto, kasus BLBI Bank BHS, merugikan negara Rp 2,659 triliun, belum jelas keberadaannya namun diduga kuat ada di Singapura.

· Sherny Konjongiang, kasus BLBI Bank BHS, merugikan negara Rp 2,659 triliun, belum jelas keberadaannya namun diduga kuat ada di Singapura.

· David Nusa Wijaya, kasus BLBI Bank Servitia, merugikan negara Rp 1,29 trilun, belum jelas keberadaannya namun di duga kuat ada di Singapura.

· Agus Anwar, kasus BLBI Bank Pelita, merugikan negara Rp 1.989.832.000.000 plus Rp 700 miliar

· Sujiono Timan BLBI BPUI 126 juta dolar AS Belum jelas keberadaannya

Nama-nama di atas sebenarnya hanya sebagian kecil dari jajaran konglomerat hitam yang bersembunyi di Singapura. Besarnya dana yang dibawa kabur ke negeri Singa itu juga menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Data tahun 2010 menyebutkan sekurangnya ada US$ 87 miliar atau setara dengan Rp. 738 triliun jumlah investasi para maling uang rakyat ini di Singapura. Sebagai perbandingan saja, utang Indonesia sejumlah Rp.1.627 triliun yang berarti lebih kurang setengahnya.

Dan ironisnya, saat krisis itu, Lee Kuan Yew malah membentuk Asian Currency Unit (ACU) sebagai wadah tempat menabung warga keturunan Cina di Singapura, termasuk para maling uang rakyat Indonesia.

Christianto Wibisono, pengamat ekonomi yang sejak Soeharto lengser lebih banyak tinggal di AS, menyatakan bahwa ACU ini sengaja diciptakan Lee Kuan Yeuw untuk menampung uang rakyat Indonesia yang dibawa kabur maling-maling tersebut. Pada Maret 1998, jumlahnya telah mencapai US$513 miliar.

Yang tak kalah seru adalah data yang dinyatakan oleh H.N. Nazar Haroen, Ketua Forum Pengusaha Reformasi. Ia memperkirakan, 110.000 warga keturunan Cina telah melarikan diri ke luar negeri akibat kerusuhan Mei 1998. Kalau saja setiap orang membawa uang rata-rata US$1 juta, maka uang yang dibawa kabur dari negeri ini mencapai US$110 miliar. Itu belum termasuk dana milik 53 konglomerat Indonesia yang memang sudah diparkir di perbankan luar negeri, yang jumlahnya sekitar US$160 miliar.

Menggunakan angka Iman Taufik saja, berarti dana yang dibawa kabur dari Indonesia ini hampir dua kali lipat dari total bantuan IMF (Dana Moneter Internasional) yang dijanjikan kepada Indonesia
. Bahkan kalau dikurs dengan Rp 7.000, nilainya dua kali lipat dari APBN 1999. Inilah yang kemudian mengundang kecaman dari pengamat dan politikus dan menganggap warga keturunan tidak nasionalis dan mau enaknya sendiri.

Pada medio 1996, setahun sebelum krisis dimulai, terjadi pemindahan dana secara besar-besaran dengan nominal lebih dari US$100 miliar “milik” swasta dari bank-bank di Indonesia ke bank-bank di Singapura. Dengan demikian, patut dicurigai bahwa sebenarnya para konglomerat Chinese Overseas itu sebenarnya sudah tahu—atau malahan bersekongkol—bahwa pialang Yahudi George Soros akan memborong dollar AS secara besar-besaran di tahun 1997 dari seluruh pasar mata uang Asia.

Juga diketahui jika Liem Sioe Liong, kroni Soeharto, sebelum krisis dikabarkan sudah mengoper saham-saham Bogasari dan Indofood ke PT QAF, yang juga dimiliki Liem Sioe Liong. Tapi karena PT QAF berpusat di Singapura dan berbasis pada dolar, maka PT QAF terbebas dari krisis moneter yang melanda Indonesia. Ini menjadi indikasi jika Liem sudah tahu bahwa krisis akan terjadi, lalu ia memindahkan kekayaannya ke Singapura. [bersambung/rz]

source: http:www.eramuslim.com/berita/laporan-khusus/siapakah-zionis-israel-itu-7.htm

Report: Mengukur Arah Qiblat

Bismillah..

Tepat tanggal 28 Mei kemarin, saya ikut mencoba meluruskan qiblat dari rumah saya. Info ini sebelumnya saya peroleh dari voa-islam.com, karena caranya cukup mudah, hanya berbekal tongkat, saya pun mencoba sendiri di rumah. Tapi karena kemarin sore mataharinya sembunyi, mendung seharian, jadi ngga begitu jelas bayangan yg nampak.

lihat, ga jelas kan bayangannya?

Tapi bagusnya, karena mendung itu jadi saya bisa ngeliat matahari langsung, cuma ga saya ambil gambarnya 😀 Ternyata ketika matahari tepat berada di atas Ka’bah, arah qiblat memang nyerong ke kanan. Biasanya saya serong dikit aja klu sholat, tapi pas dilihat mataharinnya nyerong banget. Hehe..

Sebenernya klu dilihat dari peta juga ketauan, jarak antara Arab dengan Indonesia itu ga berada satu garis lurus tepat dengan barat (biasanya kita mengacu ke arah barat kan?), makanya arah Qiblat pun serong, cuma seberapa banyak serongnya ditentukan dengan salah satu cara sederhana seperti kemarin.

Dan dari mana saja engkau keluar (untuk shalat), maka hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram (Ka’bah), dan sesungguhnya perintah berkiblat ke Ka’bah itu adalah benar dari Tuhanmu. Dan (ingatlah), Allah tidak sekali-kali lalai akan segala apa yang kamu lakukan.” (TQS. Al-Baqarah 149)

Siapakah Zionis Israel Itu? (6)

body { background: #fff; margin: 0px; padding: 4px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 13px; height: auto; width: auto; }

Walau
Judeo Christianity atau Zionis Kristen telah lama ada di Washington,
dan sejak pemerintahan Ronald Reagan sering menggelar kebaktian di
kantor kepresidenan, namun di masa Presiden George Walker Bush-lah
kelompok ini sungguh-sungguh menunjukkan taringnya. Bush sendiri pernah
mengatakan jika Amerika merupakan “Land of the Christ”, Tanahnya Mesiah.

Dalam pidato, kampanye, dan banyak buku mengenai
George W Bush, sosok presiden AS ini digambarkan sebagai seorang
Kristiani yang amat taat. Dalam situs whitehouse.org ada artikel
bertajuk The Presidential Prayer Squad atau Skuadron Doa Kepresidenan.
Mereka adalah George W Bush, Pastor Deacon Fred, Rev. Jerry Falwell,
Jesus (!), Brother Harry Hardwick, dan Rev. Bob Jones Jr. Di halaman
sebelah kanan artikel ada sejumlah agama dan ideology yang diberi tanda
silang. Dari atas ke bawah adalah: Budhists, Hindus, Shiks,
Rastafarians, dan Muslims. Kurang ajarnya, di bagian Muslim itu ada
kotak berisi nama Allah dalam bahasa Arab yang diberi tanda silang.

Artikel itu mengisahkan, “Presiden Bush selalu
memulai harinya jam sembilan pagi dengan berlutut di atas lantai Oval
Office bersama Skuadron Doa Kepresidenannya untuk berdoa dan menghadap
tuannya, The Lord Jesus. Ada Rev. Pat Robertson, Dr. Jerry Falwell, Rev.
Bob Jones Jr., Pastor Deacon Fred, dan Brother Harry Hardwick…”
Presiden Bush dilukiskan sebagai seorang Kristen yang dilahirkan
kembali. Dari pemuda yang menyukai minuman keras dan ugal-ugalan menjadi
seorang pengikut Yesus yang taat.

Di Masa pemerintahan Bush inilah, kali pertama
pidato kenegaraan ditutup dengan doa bersama, hal ini menyiratkan
kedekatan antara negara dengan agama, sesuatu yang belum pernah terjadi
sejak Amerika Serikat berdiri.

Seharusnya, ‘kesalehan’ seorang Bush dan pejabat
puncak pemerintahan Amerika dengan agama Kristen-nya, mampu menjadikan
bumi ini lebih damai, adil, dan indah. Tapi ironisnya, hal yang terjadi
adalah sebaliknya. Tidak seperti presiden-presiden Amerika lainnya yang
masih memiliki sedikit pertimbangan dan mengedepankan strategi
diplomatik, Bush dan lingkaran elitnya malah mengedepankan pemerintahan
gaya koboi, tembak duluan, urusan benar atau salah nanti belakangan. Dan
gilanya, hal ini mendapat pembenaran atas nama agama yang esensinya
selalu mengklaim sebagai agama cinta kasih.

Bagaimana semua ini bisa terjadi? Adakah semua ini
bisa ditemukan jawabannya dari apa yang disebut Judeo-Christian atau
dalam bahasa yang lebih lugas: Zionis Kristen?

Judeo Christian Lahir Dari Rahim Zionisme

Definisi baku Judeo Christian atau Zionis Kristen
mungkin tidak akan bisa kita temukan. Tapi secara hakikat, istilah ini
mengacu pada keyakinan dan sikap keagamaan umat Kristen Amerika (dan
juga Kristen Eropa serta sebagian besar dunia) yang memandang bahwa
Zionisme merupakan hal yang harus didukung secara penuh, tanpa syarat,
walau kaum Zionis-Israel membunuhi dan membantai anak-anak tak berdosa.
Sebaliknya, mereka akan merasa berdosa apabila tidak mendukung atau
mengecam Zionis-Israel, seakan berdosa kepada Tuhannya.

Ayat-ayat Injil yang sering dijadikan dalil utama
bagi kelompok ini adalah Perjanjian Tuhan kepada Abraham. Abraham atau
Ibrahim merupakan bapak dari Ismail yang kemudian menjadi generasi Nabi
Muhammad SAW dan Ishaq yang menurunkan bangsa Yahudi. Bunyi perjanjian
itu yang dimuat dalam kitab Genesis (Kejadian) Injil Perjanjian Lama
King James version adalah:

“Dan aku akan menjadikan engkau suatu bangsa
besar, dan Aku akan memberkati engkau, dan menjadikan nama engkau besar;
dan terberkatilah engkau’
(Gen 12:2)

“Dan Aku akan memberkati mereka yang memberkati
engkau, dan mengutuk mereka yang mengutuk engkau; dan di dalam diri
engkaulah semua keluarga dari dunia akan diberkati”
(Gen 12: 3).

Inilah ayat-ayat yang dijadikan dalil utama
kelompok Zionis-Kristen di dalam sikapnya membela Israel tanpa syarat.
Padahal di dalam sejarah penulisan Injil, kita sudah mengetahui bahwa
kaum Yahudi telah merusak kesucian Injil yang diturunkan Allah Swt
kepada Nabi Isa a.s.

Sayang sekali, orang-orang Kristen tidak mengetahui
atau mungkin tidak mau tahu tentang Talmud. Kitab iblis yang disucikan
Zionis Yahudi ini. Padahal, jika saja mereka mau meluangkan waktu
sedikit saja untuk membuka lembar demi lembar kitab iblis itu dan
mencari ayat-ayat bagaimana sebenarnya sikap kaum Zionis-Yahudi terhadap
Yesus dan kekristenan, maka pasti orang-orang Kristen akan berbalik
arah dan memusuhi kaum Zionis-Yahudi. Lihatlah apa kata Talmud terhadap
Yesus:

“Pada malam kematiannya, Yesus digantung dan
empatpuluh hari sebelumnya diumumkan bahwa Yesus akan dirajam (dilempari
batu) hingga mati karena ia telah melakukan sihir dan telah membujuk
orang untuk melakukan kemusyrikan (pemujaan terhadap berhala)… Dia
adalah seorang pemikat, dan oleh karena itu janganlah kalian
mengasihaninya atau pun memaafkan kelakuannya”
(Sanhedrin 43a)

“Yesus ada di dalam neraka, direbus dalam kotoran (tinja) panas” (Gittin 57a)

“Ummat Kristiani (yang disebut ‘minnim’) dan
siapa pun yang menolak Talmud akan dimasukkan ke dalam neraka dan akan
dihukum di sana bersama seluruh keturunannya”
(Rosh Hashanah 17a).

“Barangsiapa yang membaca Perjanjian Baru tidak
akan mendapatkan bagian ‘hari kemudian’ (akhirat), dan Yahudi harus
menghancurkan kitab suci umat Kristiani yaitu Perjanjian Baru “
(Shabbath 116a)

Inilah ungkapan hati Talmud yang sesungguhnya
tentang Yesus dan umat Kristen. Siapa pun yang mengaku sebagai seorang
Kristen, setelah mengetahui ayat-ayat pelecehan dari Talmud kepada Yesus
dan agamanya, tetapi masih saja mendukung Zionis-Yahudi, masih saja
membantu Israel, maka ia sebenarnya telah ikut-ikutan melecehkan
agamanya sendiri. Jika tidak percaya, silakan ambil Talmud dan baca
sendiri.

Jews Singapore Connection

Yang ketiga, Unggun ‘Samuel’ Dahana dan para
kolaborator Zionis lainnya menyatakan kepada wartawan jika acara yang
digagaskan juga akan menghadirkan orang-orang Yahudi dari luar
Indonesia, terutama Singapura, dan juga diliput oleh jurnalis Israel.
Walau akhirnya kita ketahui hal ini tidak terjadi, namun apa yang telah
keluar dari mulut mereka harus kita perhatikan dan kritisi.

Sudah menjadi pengetahuan umum jika Singapura
memang merupakan basis Yahudi di Asia Tenggara, bahkan Asia Pasifik.
Buku “Singapura Basis Israel di Asia Tengara” (Rizki Ridyasmara, 2005)
telah cukup memaparkan bagaimana Zionis Israel turut serta membangun
negeri mini tersebut namun memiliki pengaruh dan kekuatan militer
kawasan yang maksi. Semua lobi Zionis Israel di kawasan Asia Tenggara
dan Pasifik selalu saja dikendalikan dari Singapura. Sangat mungkin
termasuk mengendalikan para kolaborator Zionis di Indonesia.
[bersambung/rz]

source: http:www.eramuslim.com/berita/laporan-khusus/siapakah-zionis-israel-itu-6.htm