Tahrîr Square Dan Kesombongan Sebagian Wanita Kepada Allâh

TAHRIR SQUARE DAN KESOMBONGAN SEBAGIAN WANITA KEPADA ALLAH AZZA WA JALLA

Hari-hari belakangan ini, penggalangan massa untuk menggerakkan demonstrasi kembali menjadi tren sebagai sarana menyuarakan suara ‘keadilan’ versi mereka. Keberhasilan suatu gerakan untuk menggulingkan pemerintahan di negera tertentu bisa menginspirasi gerakan melawan pemerintah di negeri-negeri lain. 

Tulisan ini tidak sedang mendudukkan sejauh mana pelanggaran syariat dalam pergerakan massa tersebut yang sering kali menyeret timbulnya kemaksiatan yang tidak bisa dibilang sedikit, akan tetapi ingin mengingatkan kembali akan sebuah musibah besar yang terjadi di salah satu nama tempat demonstrasi yang mencuat dalam media massa, Tahrîr Square (Lapangan Tahrîr) yang terletak di Kairo Mesir. 

Nama Tahrîr Square (Lapangan Tahrîr), berasal dari bahasa arab yaitu harrara yuharriru tahrîran yang bermakna membebaskan. Sehingga Tahrîr Square berarti lapangan kebebasan. Itulah makna harfiah dari nama lapangan tersebut. 
Continue reading

Satu Tahun Usamah Dan Impian Apokaliptik Amerika

Oleh, Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi

Kami membunuh Osama, bukan untuk memerangi Islam. Tapi kami memerangi Osama demi perdamaian dunia Islam,

Kata-kata itu betul-betul menyentak saya ketika diucapkan Obama pasca syahidnya Usamah Bin Ladin, satu tahun silam. Orang Islam mana yang mau dibohongi Obama atas dalih perdamaian ketika memerangi Al Qaidah demi mewujudkan sebuah tata kemanusiaan. Tata kemanusiaan versi siapa? Versi Amerika!

Kita tidak bisa memisahkan antara ucapan Obama dengan semangat teokrasi Dajjalis ala bangsa sombong itu. Karena teologi dan kepentingan adalah dua sisi mata uang yang selalu dikorbankan Amerika lewat semangat Barbarismenya. Tentu kita masih statement George persis tiga bulan pasca tragedi 9/11 dengan menyatakan bahwa perang melawan Usamah adalah bentuk perang salib jilid II. Dan syahidnya Usaman hanyalah “martir”, batu loncatan, dan jembatan untuk menunggu nubuah Yeremia: Aku akan mengambil kamu, seorang dari setiap kota dan dua orang dari setiap keluarga, dan akan membawa kamu ke Zion!

Zionisme Kristen dan Apokaliptisisme Amerika

Kevin Philips, dalam American Theocracy: The Peril and Politics of Radical Religion, Oil, and Borrowed Money in the 21st Century, menilai ada pengaruh fundamentalis Kristen radikal dalam pemerintahan Bush. Motif serbuan AS terhadap Negara-negara Timur Tengah tidak hanya dipicu oleh keinginan menguasai minyak dunia, namun juga tendensi teologis berupa “impian apokaliptik” yang melekat dalam dogma Kristen fundamentalis.

Apokaliptik sendiri adalah penyingkapan terhadap teks wahyu mengenai tanda-tanda akhir zaman berupa kejadian-kejadian dahsyat dan kerusakan besar yang disebabkan oleh ulah Sang Perusak bernama Antichrist (orang Islam menyebutnya Dajjal). Untuk menyelamatkan umatnya yang beriman, Isa Almasih as akan turun dan memulihkan kembali kerajaan Tuhan di muka bumi dengan Yerusalem sebagai ibukotanya.

Obama adalah seorang Kristen Zionis yang begitu taat sekaligus cerdas. Semangat misi zionis dalam jiwanya banyak tertuang dalam caranya membangkitkan militansi heroik dalam tubuh pasukannya. Pada tahun 2009, Obama pernah mengatakan kepada para Veteran Perang di negaranya bahwa Amerika Serikat terpaksa bertempur di Afghanistan semata-semata jalan untuk mengantisipasi terulangnya serangan seperti 11 September di masa yang akan datang. Di masa ketika akhir zaman betul-betul akan meletuskan benturan besar antara kaum salibi dengan pasukan tauhidi.

Arie De Kuper, dalam bukunya, “Mulai Dari Musa Dan Segala Nabi”, menilai Apokaliptisisme Fundamentalis Kristen dengan mentalitas pengusungan Negara Modern Israel adalah model Zionisme Kristen. Dan menariknya menurut De Kuper, semangat masuknya Zionisme Kristen di tubuh Amerika bersamaan dengan teologi Armagedon atau perang di akhir zaman dalam doktrin bible. Karenanya tidak heran ketika Israel memenangkan Perang Enam Hari (melawan Mesir, Yordania, dan Suriah) Nelson Bell, editor majalah Christianity Today, menyuarakan perasaan banyak orang Kristen Evangelikal Amerika pada waktu itu dengan kebanggan sebuah kelompok pongah bernama Yahudi.

Untuk pertama kalinya di dalam kurun waktu lebih dari 2000 tahun Yerusalem kini sepenuhnya berada kembali dalam kekuasaan orang-orang Yahudi; dan fakta ini memberikan suatu kepercayaan yang dibarui dan tergairahkan kepada setiap orang yang mempelajari Alkitab bahwa Alkitab itu benar dan sah,” tulis Bell.

Ini artinya, tanpa sungkan Yahudi mengklaim bahwa kemenangan Perang Enam Hari adalah murni itikad Allah untuk memberikan bagian dari tanah yang tidak mereka (baca: Israel) terima pada tahun 1948. Hasil dari Perang Enam Hari adalah bahwa Yudea dan Samaria, dan Kota Lama Yerusalem, ibu kota kerajaan Daud, dikembalikan kepada mereka sebagai pewaris sah Palestina.

Syahidnya Usamah Bin Ladin adalah satu tahap awal untuk membunuh para Ulama lainnya atas militansi perang Salib antara Zionisme Kristen yang didukung Israel melawan Islam. Ingat kita sudah berada di akhir zaman. Bukan saja dunia Islam yang merasakannya, termasuk Kristen dan Yahudi. Dan Obama betul-betul menemukan momentum pas untuk melebarkan sayap Zionisme seperti terlihat dalam antusiasme masyarakat pasca syahidnya Usamah.

Dalam kontelasi ini, kita sudah tidak bisa lagi membedakan mana masyarakat sipil mana pemerintah AS: mereka semua turun ke jalan membunyikan mobil, menyalakan motor, menyetel Televisi siang malam dan menyebarkannya seluruh dunia, seakan akan mereka akan menyambut Messiah turun ke bumi! Dan tampaknya Amerika memang benar-benar serius menyambut momentum benturan akhir zaman baik lewat film, novel, maupun lagu seperti, 2012, Core, The Day After Tomorrow, Armageddon, The End of Evangelion, The Road Warrior, serial Left Behind (Tim LaHaye dan Jerry B. Jenkins), Its Only Temporary (Eric Shapiro) dan Survivors (Zion Ben-Jonah). Last Day on Earth (Duran Duran), Progenies of the Great Apocalypse (Dimnu Borgir) dan King of the World (Steely Dan).

Militansi Syekh Usamah dan Pertarungan Timur Tengah

Senada dengan Yahudi dan Kristen, Syahidnya Syekh Usamah sama-sama akan menjadi motivasi bagi umat Islam untuk melawan kaum kuffar di akhir zaman. Pasca Syahidnya Usamah, Al-Shabaab pun bersumpah membalas kematian Syekh Usamah dengan mengatakan kekhalifahan global akan segera terbentuk. Bahkan HAMAS pun turut mengecam pembunuhan Usamah. Tentu, ketika seluruh komponen jihadis bersatu dalam panji Tauhid ini benar-benar akan sangat menakutkan bagi Israel.

Sosok Usamah betul-betul menjadi semangat militansi umat Islam, karena Usamah adalah sosok yang dinilai paling berani melawan hegemoni imperialisme Barat. Bahkan seminggu sebelum syahid, Asy Syahid masih sempat memotivasi agar kaum muslimin teguh menumbangkan para tiran di Timur Tengah. Dengan lantang, ia menyatakan bahwa Matahari revolusi telah tiba dari Maghrib yang lampunya mulai bersinar terang di Tunisia Salah satu yang akan menjadi tantangan besar bagi umat Islam adalah bagaimana meyakinkan Arab Saudi bahwa Amerika betul-betul musuh sejati umat Islam. Bagaimana tidak? Arab Saudi yang seharusnya menjadi Negara pelindung hak dan martabat umat Islam justru terjebak pada koalisi kuffar bersama Amerika yang sejatinya memang berniat menaklukan Saudi. Karena menguasai Saudi sama dengan menjalankan separuh nubuwah teologi messianik dimana Yahudi masih memiliki dendam ketika Bani Nadhir dan Bani Qainuqo berperang melawan Rasulullah SAW dan Umat Islam.

Karenanya tidak heran dalam peta terbarunya, -yang dikeluarkan Ralph Peters seorang perwira Intelejen Amerika di tahun 2006,- Zionis berencana memecah Arab Saudi menjadi dua bagian: antara Mekah dan Madinah. Kedua ‘negara’ ini nantinya akan menjadi sebuah Negara independen bernama Islamic Sacred State. Sementara separuh wilayah Saudi akan merangsek ke garis batas Yaman bagian selatan.

Peta menguasai Timur Tengah jauh sebelum Ralph, juga sudah dicanangkan Theodorl Herzl yang mengatakan bahwa cakupan Zionis akan membentang dari sungai Nil ke Eufrat. Begitu pula dengan testimoni Rabi Fischman di tahun 1947 yang berujar bahwa Tanah yang Dijanjikan Tuhan untuk bangsa Yahudi dimulai memanjang dari Sungai Nil ke Eufrat. Itu termasuk bagian Suriah dan Lebanon. Sedangkan Oded Yinon dalam doktrinnya yang tercantum dalam Kivunin dan dikeluarkan oleh The World Zionist Organization juga menyiratkan hal yang sama, “The Moslem World is built like a temporary house of card put together by foreigners divide into 19 states, all made combination of minorities dan ethnic group wich are hostile to one another, so that every Arab Moslem state nowaday faces ethnic social destruction from within, and in some a civil war already raging,”

Oleh karena itu, clash antara
Islam dan kaum kuffar pasca syahidnya Syekh Usamah ini terus berlangsung bahkan ketika Dajjal turun. Satu syahidnya Usamah adalah momentum untuk Islam bersatu meraih kemuliaan dan kesemuanya akan berlajan beriringan dengan semangat militansi Kristen, Yahudi, untuk juga membantai Islam demi menyambut sang messiah. Sudahkah kita mempersiapkannya?

Wallahua’lam.

src: http:on.fb.me/JT93N0

To My Unborn Children

To my unborn children,

I know you probably won’t be there to read this. Maybe I would be dead before you see the light. Or rather, witness how very inhumane and so unjust this world has become. I’ll just write anyway, maybe at least your elder brother or sister witnesses all that and read this.

Ever since I came to Gaza, I’ve been dreaming of a better life. Peaceful and quiet. No explosions or blood. No injuries or martyrs. Nothing but a regular peaceful life each and every one of us would wish for.

In Gaza, everything is different. In Gaza, Israeli F16s substitute birds. In Gaza, we sleep on the continuous buzzing coming from the ever-existent drones. We wake up to find that there’s no electricity. In Gaza, explosions are the sunshine and the smell of ash is the cent of the city.

Electricity barely comes in Gaza, where it’s very dangerous to live in. Every moment you live is considered a new life because it’s very dangerous and Israelis bring their toys over to Gaza and play with us the hard way.

My beloved unborn children, being a Gazan means that you’re strong willed, courageous, and like no other. As you grow up, you’ll learn all about the different kinds of weapons and arms both allowed and internationally forbidden. What’s different in Gaza is that Israel doesn’t distinguish its targets. Meaning, they kill anything that moves with a smile. Frankly, they would kill us more than once if possible.

Growing up in Gaza isn’t easy. Growing up in Gaza is a challenge. A quest. And the reward is a strong courageous personality. So brave to the point that you’d stand in front of a tank with a bare chest and a rock. Daring it to move forward yelling ‘over my dead body’. More like mashed if you want to know.

Another thing you’ll gain as a Gazan is that you’ll be able to distinguish the sounds of whatever that kills. Be a M-16, AK-47, .50 Cal, Shells from the Israeli warships in the sea, warplanes in the sky, tank shells, and the list goes on forever. Living in Gaza is a challenge of patience. Only the strong and the brave can survive. By survive, I mean living yet another day of struggle and a million hardships a day.

Last but not least, don’t leave Palestine. It’s where you belong. It’s where everything counts and where whatever little will make a huge change. Don’t leave Palestine because it’s my motherland. Your motherland. Don’t leave Palestine because at the end of the day, it’s all you’ve got left. Don’t leave Palestine even if you’ll be living on olive oil and thyme all your life.

PS: tell your mother that I love her so much. Kiss her cheeks and forehead for me.

With all my love,

Papa.

————-

http:www.sigaza.com/?p=833 ~ https:twitter.com/#!/imNadZ

surat ini sempat menjadi TTWW di twitter dengan hashtag #ToMyUnbornChild